Join us in Telegram

Mantra Panca Kramaning Sembah dan Artinya

Mantra Panca Kramaning Sembah ini digunakan oleh umat Hindu sedharma untuk berdoa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Doa mantra ini dilantunkan pada saat setelah selesai melaksanakan Puja Tri Sandhya. Panca Kramaning Sembah ini hal wajib dilakukan ketika melakukan persembahyangan dimanapun dipimpin oleh siapapun termasuk diri sendiri.

Saya sendiri sudah hafal mantra Panca Kramaning Sembah sedari masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Karena memang dari kecil orang tua saya sangat rajin sekali melakukan persembahyangan, mulai dari banten saiban di pagi hari dan banten canang di sore harinya, lalu dilanjutkan dengan Tri Sandya Sandya kemudian baru Panca Sembah.

Pengertian Panca Kramaning Sembah

Panca Kramaning Sembah Artinya

Sebelum Anda melangkah lebih jauh, ada baiknya Anda mengetahui apa yang dimaksud dengan Panca Kramaning Sembah. Sesuai dengan namanya Panca Sembah terdiri dari dua suku kata yaitu Panca dan Sembah.

Panca yang artinya 5 (Lima) dan Sembah yang artinya “Sujud” yang dilakukan dengan cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan maupun tanpa ucapan (pikiran atau perbuatan). Jadi, dapat diartikan Panca Kramaning Sembah adalah 5 (lima) urutan dalam persembahyangan yang disampaikan melalui doa mantra-mantra.

Persiapan Sarana Persembahyangan

Sarana Persembahyangan Hindu

Sebelum Anda memulai Panca Kramaning Sembah, terlebih dahulu Anda harus mempersiapkan sarana-sarana yang digunakan oleh umat Hindu saat melakukan persembahyangan. Ada 4 (empat) sarana utama sembahyang yang harus dipersiapakan, antara lain:

1. Bunga

Bungan merupakan lambang ketulusikhlasan dan kesucian hati seseorang untuk menghadap pada sang pencipta. Bunga mempunyai dua fungsi penting yaitu sebagai simbul Tuhan (Siwa) dan sebagai sarana persembahan. Bunga sebagai simbul Tuhan diletakkan di ujung cakupan tangan pada saat menyembah dan sesudahnya bunga tersebut diletakkan di atas kepala atau disumpingkan di telinga. Bunga sebagai saranha persembahan maka bunga dipakai mengisi sesajen.

Dalam Kekawin Negara Kerthagama dijelaskan bunga digunakan pada saat Upacara Saradha yaitu upacara penyucian Roh Leluhur tahap kedua di Bali disebut Puspa Lingga. Tahap pertama dinamakan Puspa Sarira yang artinya berbadan bunga. Inilah yang dibakar sebagai simbul badan manusia. Tujuannya agar jiwatman bisa menyatu ke alam Ketuhanan yang dinamakan Mur Amungsi Maring Siwa Buda Loka.

Selain bunga juga sering digunakan Kwangen dalam persembahyangan atau kramaning sembah. Kwangen dalam fungsinya melambangkan tiga unsur kekuatan suci Tuhan yaitu Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Siwa). Sedangkan di dalam Bradhara Upanisad menegaskan bahwa Kwangen merupakan simbol Ida Sanghyang Widhi sedangkan Lontar Sri Jayakasunu menjelaskan bahwa kwangen adalah simbolik Aksara suci Om (Omkara).

Jelas kedua sumber ini menunjukkan bahwa Kwangen adalah simbol atau lambang wujud visual Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di samping itu ada juga pendapat bahwa Kwangen itu merupakan lambang ketulusikhlasan dan keterpusatan pikiran. Itulah sebabnya bahwa dalam kehidupan sehari-hari perlu dikembangkan rasa ketulusikhlasan itu. Sebab tanpa rasa tulus dan ikhlas kepada Sang Hyang Widhi, maka manusia akan menjadi resah, gelisah dan tidak tenang.

2. Dupa / Api

Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berbau harum dan menyala sebagai lambang Agni dan berfungsi sebagai saksi atau perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja. Sebagai pembasmi segala mala dan pengusir roh jahat. Sebagai saksi dalam upacara. Kalau kita renungkan fungsi dan arti dupa dalam upacara persembahyangan yang dipimpin pendeta punya arti sangat dalam.

Dupa berasal dari Wisma yaitu alam semesta dan asapnya secara perlahan menyatu ke angkasa inilah sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju Sanghyang Widhi. Pemangku atau Pinandhita dalam memimpin upacara menggunakan api dalam bentuk Pasepan yang isinya: Menyan, Majegau dan Cendana dibakar agar berasap dan berbau.

Makna Dupa sebagai pembasmi segala kotoran tampak jelas pada persembahyangan sehari-hari. Api juga sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Dalam persembahyangan dupa sebagai saksi dan asapnya sebagai lambang gerakan rohani ke angkasa sebagai stana para Dewa. Dupa sebagai sarira Sang Hyang Agni maha melihat perbuatan manusia.

3. Tirta / Air

Air merupakan sarana yang Penting dalam persembahyangan. Menurut jenisnya air yang dipakai dalam persembahyangan air dibedakan atas dua macam yaitu: 1. Air untuk pembersihan secara pisik. 2. Air suci (tirtha). Berdasarkan cara pembuatannya tirtha dibedakan atas dua jenis tirtha yang dimohonkan kepada Tuhan dan tirtha yang dibuat oleh pandita melalui mantra atau puja.

Air suci (tirtha) berfungsi sebagai pembersihan diri dan kecemaran sabda, bayu dan idep. Tirtha pada dasarnya merupakan air biasa bila diuraikan secara kimia maka unsurnya adalah H2O tetapi karena dilandasi dengan kepercayaan dan keyakinan agama maka materi tersebut disakralkan sehingga mampu menumbuhkan keheningan pikiran bahkan memiliki kekuatan magis.

4. Bija

Bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija mengandung makna menumbuhkembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Sehingga disarankan agar dapat menggunakan beras galih yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata).

Alasan ilmiahnya, beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh. Dalam menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an / Kedewataan dalam tubuh, tentu meletakkannya juga tidak sembarangan. Ibaratnya menumbuh kembangkan tananam buah kita tidak bisa menamamnya sembarangan haruslah di tanah yang subur. Maka dari itu menaruh bija di badan manusia ada aturannya, agar dapat menumbuh kembangkan sifat kedewataan /ke-Siwa-an dalam diri.

Urutan Panca Kramaning Sembah

Urutan Panca Kramaning Sembah

Dari ke-lima urutan dalam persembahyangan tersebut, harus dilantunkan sesuai dengan urutannya (tidak boleh diacak). Di dalam urutan Panca Kramaning Sembah terdapat mantra-mantra nya tersendiri yang mana mantra tersebut ditujukkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.

Di persembahyangan biasa, bukan pada saat hari-hari raya suci seperti Galungan, Kuningan, Siwaratri, Nyepi, dan lainnya. Para pemangku / pinandita ataupun diri kita sendiri biasanya melantunkan mantra-mantra sebagai berikut sesuai dengan urutannya.

Sembah Pertama: Muspa Puyung

Mantra:

Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

Artinya: Oh Hyang Widhi, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah diri hamba

Sembah Kedua: Bunga Putih ditujukkan kepada Sang Hyang Siwa Raditya

Mantra:

Om Adityasyà param jyoti
raktatejonamo’stute
swetapankajamadhyastha
bhàskaràyanamo’stute

Artinya: Oh Hyang Widhi, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja-Mu. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja-Mu yang menciptakan sinar matahari berkilauan.

Sembah Ketiga: Kwangen atau Bunga Warna Warni ditujukkan kepada Ista Dewata

Mantra:

Om nama dewa adhisthanàya
sarwa wyapi wai siwàya
padmàsana eka pratisthàya
ardhanareswaryai namo namah

Artinya: Oh Hyang Widhi, yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

Sembah Keempat: Kwangen atau Bunga Warna Warni nunas Waranugraha

Mantra:

Om anugraha manoharam
dewa dattà nugrahaka
arcanam sarwà pùjanam
namah sarwà nugrahaka

Dewa-dewi mahàsiddhi
yajñanya nirmalàtmaka
laksmi siddhisca dirghàyuh
nirwighna sukha wrddisca

Artinya: Oh Hyang Widhi, pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan dari segala pujaan, hamba memuja-Mu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian dari para Dewa dan Dewi berwujud yadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.

Sembah Kelima: Muspa Puyung

Mantra:

Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha. Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

Artinya: Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu yang tidak terpikirkan. Semoga damai, damai, damai selalu.

Baik demikianlah penjelasan lengkap saya perihal Panca Kramaning Sembah, mulai dari Artinya, Persiapan Sembahyang, hingga urutan Panca Kramaning Sembah itu sendiri. Semoga bermanfaat untuk Anda terutama yang beragama Hindu dan bisa lebih meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Astungakara.

Bagikan:

Leave a Comment