Kata Arti Ana Uhibbuka Fillah dan Jawabannya Dalam Bahasa Arab

caileak.com – Kata Arti Ana Uhibbuka Fillah dan Jawabannya Dalam Bahasa Arab – Sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk saling mencintai dalam arti bahwa cinta tersebut dimotivasi oleh Allah daripada nafsu.

Kata Arti Ana Uhibbuka Fillah dan Jawabannya Dalam Bahasa Arab

mirip dengan kalimat “Aku mencintaimu karena Allah SWT” yaitu Ana Uhibbuka Fillah. Karena dijelaskan dalam ilmu sufi bahwa jika anda menyadari bahwa pandangan itu tidak termasuk Tuhan, maka itu salah.

Hal ini semata-mata menunjukkan bahwa pendapat tidak ada artinya tanpa Allah, terutama ketika berbicara tentang mencintai sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Bagaimana tidak, karena pada intinya cinta itu berasal dari Tuhan dan dianugerahkan Tuhan kepada hambanya sehingga terjalin rasa cinta timbal balik.

Alhasil, jelas sekali makna dari kalimat Ana Uhibbuka Fillah adalah Allah SWT adalah sumber dari segala cinta, yang artinya ketika kamu merasakan cinta yang timbul di dalam hatimu, Allah SWT adalah sumber dari cinta itu.

Jika tidak disandingkan dengan nama Allah, maka cinta akan menjadi tidak berarti, dan hasilnya adalah nafsu bukan cinta.

Cinta menimbulkan rasa sayang dan sayang yang menenangkan, melindungi dan juga menghargai, bukannya membiarkannya liar sehingga nafsunya tak terkendali.

Jangan menyamarkan keinginan manusia dengan kedok cinta dan kasih sayang karena pada intinya cinta itu suci dan akan selalu suci.

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW membahas tentang pentingnya mencintai sesama muslim.

Arti Ana Uhibbuka Fillah Dan Makna Yang Terkandung

Sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk saling mencintai dalam arti bahwa cinta tersebut dimotivasi oleh Allah daripada nafsu.

mirip dengan kalimat “Aku mencintaimu karena Allah SWT” yaitu Ana Uhibbuka Fillah. Karena dijelaskan dalam ilmu sufi bahwa jika anda menyadari bahwa pandangan itu tidak termasuk Tuhan, maka itu salah.

Hal ini semata-mata menunjukkan bahwa pendapat tidak ada artinya tanpa Allah, terutama ketika berbicara tentang mencintai sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Bagaimana tidak, karena pada intinya cinta itu berasal dari Tuhan dan dianugerahkan Tuhan kepada hambanya sehingga terjalin rasa cinta timbal balik.

Alhasil, jelas sekali makna dari kalimat Ana Uhibbuka Fillah adalah Allah SWT adalah sumber dari segala cinta, yang artinya ketika kamu merasakan cinta yang timbul di dalam hatimu, Allah SWT adalah sumber dari cinta itu.

Jika tidak disandingkan dengan nama Allah, maka cinta akan menjadi tidak berarti, dan hasilnya adalah nafsu bukan cinta.

Cinta menimbulkan rasa sayang dan sayang yang menenangkan, melindungi dan juga menghargai, bukannya membiarkannya liar sehingga nafsunya tak terkendali.

Jangan menyamarkan keinginan manusia dengan kedok cinta dan kasih sayang karena pada intinya cinta itu suci dan akan selalu suci.

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW membahas tentang pentingnya mencintai sesama muslim.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” (HR Bukhari dan Muslim)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku dalam genggamannya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan (sempurna) beriman sampai kalian saling mencintai,” (HR Muslim)

Mengkaji Kalimat Ana Uhibbuki Fillah

Ketika dia berbicara atau mendengar Ana Uhibbuka Fillah, dia teringat akan sebuah hadits dari Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa orang yang telah merasakan manisnya iman adalah pemilik dari tiga tanda.

Hadistnya sebagai berikut :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Artinya Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka (HR. Bukhari no. 16).

Pembahasan singkat tentang hadits di atas yang mengandung kalimat “Aku mencintaimu karena Allah SWT.”. Bahwa seseorang yang diberkahi dengan manisnya iman menunjukkan tiga ciri.

Mencintai Allah Dan Rosulullah Melebihi Yang Lainnya

Seorang muslim yang beriman dan merasakan manisnya iman akan mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari siapapun.

Yang tersisa hanyalah cinta dan pemujaan kepada Allah dan Rasul-Nya; bahkan diri sendiri bisa dihancurkan.

Namun belajar dari seorang Mursyid yang dekat dengan Allah tidaklah sederhana dalam menyampaikan hal-hal seperti itu.

Menurut penilaian cepat, meski makhluk lain adalah ciptaan Tuhan, cara terbaik untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenal diri sendiri terlebih dahulu.

Tapi sebuah hadits memperjelas dan menjelaskannya: Jika kamu mengenal dirimu sendiri, kamu akan mengenal Tuhanmu.

من عرف نفسه، فقد عرف ربّه “

Artinya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Di sini, pengetahuan mencakup mengetahui apa yang ada di dalam tubuh atau tubuh dan melihat bagian luarnya.

Karena sebenarnya yang ada di dalam tubuh, bukan tubuh itu sendiri, yang hidup dan memiliki rasa cinta, keinginan, dan lain sebagainya.

Topik ini tidak dibahas secara rinci dalam artikel ini, tetapi jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut, carilah seorang mursyid yang sudah menjadi ma’rifatullah (“mengenal Allah”) dan belajarlah bersama mereka.

Mencintai Karena Allah

Dasar keimanan seorang hamba adalah kecintaannya kepada Allah, baik cinta itu kepada makhluk maupun kepada orang selain Allah SWT.

Bahkan cinta seorang hamba dicabut jika tidak dilandasi oleh Allah, padahal Allah adalah sumber dari segala cinta.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seseorang yang beriman kepada Allah akan mencintai segala sesuatu hanya karena Allah.

Cintanya kepada sang pencipta, Allah SWT, tidak akan melampaui makna. Jika ada cinta pada makhluk yang melebihi cinta Tuhan, maka bisa dibatalkan dan mengarah pada persekutuan dengan selain Tuhan.

Bukankah Allah SWT keberatan dengan peniruan dan persekutuan?

Banyak manfaat atau fadilah ketika mencintai hanya karena Allah SWT salah satunya tertera didalam Al-qur’an Surat Al-maidah : 54.

فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ

Artinya Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela (QS. Al-Maidah : 54).

Membenci demi Allah adalah hadits ketiga yang berkaitan dengan manisnya iman, namun dalam hal ini hadits tersebut tidak dibahas karena topik yang diangkat adalah kalimat Ana Uhibbuka Fillah.

Oleh karena itu, meskipun berhubungan dengan Allah, namun membicarakan kebencian tidaklah tepat karena hanya Cinta-Nya yang Nyata. Wallahu A’lam.